
Dari Desa ke Dunia: Gebrakan Kampus Berdampak
Subang, Jawa Barat 28 April 2026 Upaya konkret menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan riil masyarakat kembali ditunjukkan oleh Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung melalui program Kampus Berdampak. Kegiatan bertajuk Diseminasi Pengembangan Masyarakat & Kewirausahaan ini menghadirkan implementasi nyata berupa Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Produk Kearifan Lokal dan Pelayanan Prima di Desa Wisata Cibeusi, Kabupaten Subang, 29 April 2026.
Program ini tidak sekadar seremoni akademik, melainkan sebuah intervensi strategis yang dirancang untuk memperkuat fondasi ekonomi desa melalui optimalisasi potensi wisata dan UMKM berbasis komunitas (community-based tourism).
Kegiatan ini dipandu langsung oleh dua narasumber berpengalaman, yakni Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., MM dan Dr. Sukmadi, SE., MM, serta diinisiasi oleh kelompok mahasiswa Pascasarjana Terapan Pariwisata Poltekpar NHI Bandung: Eugenia Rumat, Gisa Syaefullah, Ilham Syaputra, Kevian Purwadmaja, dan Yanto Aryanto. Turut hadir Kepala Desa Cibeusi beserta jajaran, pengelola sektor pariwisata, serta masyarakat lokal sebagai aktor utama perubahan.

Potensi Besar yang Selama Ini Belum Dimaksimalkan
Dalam pemaparan tim mahasiswa, Desa Cibeusi memiliki kekayaan potensi yang sangat kompetitif sebagai destinasi wisata berbasis pengalaman:
Potensi Alam: Curug Cibareubeuy, Curug Ciangin, lanskap pedesaan dan sawah, Wisata Air Nusa Pelangi, hingga Bukit Pasir Ipis menjadi daya tarik utama bagi wisatawan pencinta alam.
Potensi UMKM Lokal: Beragam produk olahan seperti singkong, pisang, kolang-kaling, beras, gula aren, beras hitam, hingga kuliner khas seperti liwetan. Ditambah dengan layanan homestay serta penyewaan alat tracking dan camping.
Potensi Budaya: Kesenian tradisional Sunda, tradisi bertani, kehidupan sosial masyarakat, serta kerajinan berbasis kearifan lokal menjadi identitas kuat yang tidak dimiliki daerah lain.
Namun demikian, potensi besar tersebut selama ini dinilai belum terkelola secara optimal dan terintegrasi.
Strategi Kunci: Dari Sekadar Menginap Menjadi “Experience-Based Tourism”
Menurut Dr. Wawan Gunawan, pendekatan wisata tidak lagi bisa bertumpu pada aspek fisik semata.
“Homestay tidak cukup hanya dijual sebagai kamar. Yang harus dijual adalah pengalaman. Wisatawan hari ini mencari makna, bukan sekadar tempat tinggal,” tegasnya.
Konsep yang diusung adalah experience-based tourism, di mana wisatawan diajak terlibat langsung dalam kehidupan desa. Mulai dari bertani, memasak, hingga memahami nilai budaya lokal melalui storytelling.
Sementara itu, Dr. Sukmadi menekankan pentingnya sistem dan tata kelola:
“Tanpa manajemen yang kuat, potensi besar akan terfragmentasi. Di sinilah peran Pokdarwis sebagai pengelola utama menjadi krusial dalam model community-based management.”
Model Ideal: Pokdarwis sebagai Motor Utama
Struktur pengelolaan yang ditawarkan menempatkan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) sebagai pusat kendali:
- Pokdarwis: Manajemen utama (standarisasi, reservasi, harga, promosi)
- Pemilik rumah: Operator homestay
- Masyarakat: Penyedia aktivitas (kuliner, budaya, pemandu wisata)
Fungsi strategis Pokdarwis meliputi:
- Standarisasi kebersihan dan pelayanan homestay
- Sistem reservasi terintegrasi satu pintu
- Penetapan harga yang sehat dan tidak saling menjatuhkan
- Promosi yang agresif dan terarah
Model ini diyakini mampu menciptakan ekosistem wisata yang adil, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat.
Paket Wisata: Menjual Cerita, Bukan Sekadar Destinasi
Program ini juga memperkenalkan paket wisata berbasis aktivitas, yang menjadi inti dari strategi pemasaran:
- Paket Edukasi Budaya
Belajar bertani tradisional, membuat kerajinan, hingga memahami cerita budaya lokal.
- Paket Aktivitas Harian Desa
Bertani, memasak pangan lokal, memancing, dan eksplorasi alam.
- Paket Event Budaya
Pertunjukan seni, ritual adat, hingga festival desa.
Pendekatan ini menjadikan kearifan lokal sebagai nilai jual utama, bukan sekadar pelengkap.
Menciptakan “Memorable Experience”: Kunci Loyalitas Wisatawan
Tim mahasiswa menekankan tiga pendekatan utama:
1. Personalisasi
Aktivitas disesuaikan dengan minat wisatawan, termasuk perhatian kecil seperti makanan favorit.
2. Storytelling
Menghidupkan legenda, sejarah, dan makna budaya di balik setiap aktivitas.
3. Emotional Connection
Wisatawan tidak hanya melihat, tetapi merasakan—bahkan membawa pulang hasil karya sendiri sebagai souvenir.
Contoh alur aktivitas harian:
- Pagi: bertani dan memasak
- Siang: membuat kerajinan dan jelajah desa
- Sore: interaksi santai dengan warga
- Malam: pertunjukan seni dan cerita rakyat
Pelayanan Prima: Standar Baru Desa Wisata
Pelatihan juga menitikberatkan pada Service Excellence dengan model ABC:
- Appearance (Penampilan):
Kerapihan, kebersihan, bahasa tubuh, dan kesan pertama.
- Behavior (Perilaku):
Ramah, responsif, profesional, dan mampu menangani masalah.
- Communication (Komunikasi):
Jelas, sopan, mendengarkan aktif, dan adaptif.
“Komunikasi bukan soal bicara banyak, tapi apakah tamu merasa didengar dan dihargai, menjadi salah satu pesan kunci dalam pelatihan” jelas Yanto Aryanto.
Dampak Nyata: Dari Ekonomi Hingga Sosial Budaya
Program ini menargetkan dampak yang terukur:
- Meningkatkan lama tinggal wisatawan (length of stay)
- Mendorong pengeluaran wisatawan (quality tourism)
- Memperluas keterlibatan masyarakat
- Menciptakan lapangan kerja berbasis desa
Indikator keberhasilan pelayanan meliputi:
- Wisatawan merasa seperti di rumah sendiri
- Munculnya repeat visitor
- Rekomendasi dari mulut ke mulut
- Keterlibatan emosional wisatawan
- Ulasan positif.

Rekomendasi Strategis: Agar Tidak Berhenti di Pelatihan
Agar program ini berkelanjutan dan berdampak luas, sejumlah rekomendasi strategis disampaikan:
1. Digitalisasi Desa Wisata
Pengembangan platform reservasi online terintegrasi dan promosi digital berbasis konten storytelling.
2. Sertifikasi dan Standarisasi Nasional
Homestay dan layanan wisata perlu didorong masuk dalam standar nasional untuk meningkatkan daya saing.
3. Inkubasi UMKM Berkelanjutan
Pendampingan lanjutan dalam packaging, branding, dan akses pasar.
4. Kolaborasi Multi-Pihak
Sinergi antara akademisi, pemerintah, swasta, dan komunitas.
5. Kalender Event Tahunan Desa
Menciptakan agenda rutin untuk menarik kunjungan berulang.
6. Monitoring dan Evaluasi Berbasis Data
Mengukur dampak ekonomi dan sosial secara berkala.
Penutup: Model Replikasi Nasional
Kegiatan Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung ini menjadi bukti bahwa pendekatan akademik yang aplikatif mampu menjawab tantangan nyata di lapangan. Desa Cibeusi kini tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai laboratorium hidup pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Jika dikelola secara konsisten, model ini berpotensi direplikasi di berbagai desa wisata di Indonesia—mendorong transformasi ekonomi lokal yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar kuat pada identitas budaya bangsa.



